Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah
administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang
berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab.
Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer
(virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan
hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan
gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600
meter dan kedalaman 250 meter. Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl
merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini
merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Berdasarkan
inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147
titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah
Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang
tahun
Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri
dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman
hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga
(Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda
tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah
Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga
Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten
(Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema
sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).
Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).
Jalur Pendakian
Sebagai
gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan
utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan
setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur
pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur
Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama
alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang
tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah,
keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas.
Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
Lembah
Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
Telaga
Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
Curug
putri (Cigugur)
Sedangkan
di wilayah Majalengka antara lain:
Curug
Sawer (Argapura)
Curug
Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata
Budaya
Bagi
para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang
bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya :
Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur
Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).



0 komentar:
Post a Comment