Gunung Sindoro/Sundoro mempunyai ketinggian 3.150 MDPL. Terletak di Jawa Tengah - Indonesia, Dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindoro/Sundoro terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.
Gunung Sindoro sering menjadi tujuan utama para Pecinta Alam, terutama untuk melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro). Medan yang terjal, panasnya sengatan matahari serta tidak adanya sumber air menjadi tantangan utama dalam pendakian. Seringkali pendaki tidak bisa melanjutkan pendakian karena kehabisan air minum. Sebaiknya Pendikian Gunung ini di lakukan pada musim penghujan, seperti bulan November, Desember dan Januari.
Gunung Sindoro sering menjadi tujuan utama para Pecinta Alam, terutama untuk melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro). Medan yang terjal, panasnya sengatan matahari serta tidak adanya sumber air menjadi tantangan utama dalam pendakian. Seringkali pendaki tidak bisa melanjutkan pendakian karena kehabisan air minum. Sebaiknya Pendikian Gunung ini di lakukan pada musim penghujan, seperti bulan November, Desember dan Januari.
Jalur
Pendakian Sindoro Melalui Kledung
Tempat pendaftaran di basecamp
Kledung yang juga menjadi markas Tim SAR benama GRASINDO ini
menyediakan tempat untuk menginap, kamar mandi, menjual kaos, stiker,
gantungan kunci, makanan dan minuman. Pendaki dapat memesan makanan bungkus
sebagai bekal di perjalanan, karena memasak dan berkemah di gunung akan
memerlukan persediaan air yang banyak.
Pendakian ke gunung Sindoro sebaiknya dilakukan
pada malam hari karena
untuk menghindarai panas dan debu, serta untuk menghemat air minum. Perjalanan
diawali dari basecamp melewati perkampungan penduduk. Selanjutnya menapaki
jalan berbatu sejauh sekitar 2 km melintasi kebun penduduk yang didominasi oleh
tanaman jagung. Track awal landai kemudian sedikit menanjak ketika memasuki
kawasan hutan pinus menjelang Pos
I Sibajing, dengan ketinggian 1.900 mdpl.
Dari Pos I ini kita berbelok ke kanan , jangan mengambil jalan
lurus karena buntu. Kita harus mendaki dan menuruni 2 buah punggungan gunung.
Jalur bergeser ke punggungan yang lain melintasi tiga buah jembatan kayu. Pohon
lamtoro dan pinus yang cukup lebat di sepanjang jalur cukup membuat suasana
menjadi sejuk. Pos II berada
pada ketinggian 2.120 mdpl.
Menuju Pos III medan mulai terjal dan berbatu, terdapat sebuah batu
yang sangat besar di tengah jalan setapak. Pendaki dapat beristirahat di atas
batu sambil menikmati pemandangan alam. Jalan tanah berdebu bercampur kerikil
seringkali menyulitkan pendakian. Medan mulai terbuka kembali sehingga di siang
hari akan terasa panas. Gunung sumbing sudah mulai kelihatan, sangat tingi dan
besar sehingga bisa menjadi hiburan selama pendakian yang melelahkan.
Pos III Seroto berada pada
ketinggian 2.530 mdpl, lokasinya terbuka dan cukup luas untuk mendirikan
belasan tenda. Dari sini kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke
arah gunung Sumbing. Pemandangan lereng terjal gunung Sindoro serta puncak
bayangan yang nampak di depan mata sangat indah untuk dinikmati.
Dari Pos III pendakian dilanjutkan
dengan melintasi jalan berbatu yang terjal disertai dengan kerikil dan debu.
Meskipun medan sangat berat kawasan ini agak rindang karena banyak ditumbuhi
oleh pohon lamtoro dan tanaman perdu. Jalur kembali terbuka melintasi medan
yang banyak terdapat batu-batu besar. Setelah mencapai puncak bayangan pertama,
pendaki harus menghadapi puncak bayangan berikutnya yang kelihatan sangat
tinggi dan curam.
Menuju puncak bayangan ke dua yang
terjal dengan medan yang berbatu sungguh sangat melelahkan, terutama bila
dilakukan pendakian pada siang hari akan terasa sangat panas dan kita akan
sering kehausan. Beruntung medan yang kita lewati ditumbuhi oleh pohon lamtoro
dalam jarak yang agak dekat sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Lintasan
berikutnya melewati medan berbatu dengan tanaman edelweis. Sesampainya di
puncak bayangan kedua setelah melewati hutan edelweis, medan kembali terbuka
dan harus melintasi batu-batu besar. Puncak gunung yang sesunguhnya masih belum
nampak karena tertutup pandangan oleh pohon-pohon edelweis.
Jalur akhir menuju puncak ini
medannya sangat berat, selain terjal dan terbuka, panas matahari sangat terasa
menyengat, kelelahan dan kehausan menyertai para pendaki. Batu-batu besar
menjadi pijakan di sepanjang lintasan. Di siang hari pasir dan batu terasa
sangat panas bila disentuh, terutama batu yang berwarna hitam bila dipegang
terasa sangat panas sekali. Tidak mengherankan jika di gunung Sindoro ini
sering terjadi kebakaran. Menjelang puncak pohon edelweis banyak tumbuh
sehingga bisa menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari.
Puncak gunung Sindoro tidak terlalu
luas tetapi melingkar mengelilingi kawah. Banyak terdapat batu-batu besar dan
ditumbuhi tanaman edelweis. Dari puncak gunung Sindoro pemandangan ke
arah selatan terlihat gunung Sumbing sangat indah sekali. Sedikit ke arah
timur nampak gunung Merbabu dan gunung Merapi yang diselimuti awan.
Kawah gunung Sindoro cukup luas,
pendaki dapat turun ke dasar kawah. Di musim penghujan kawah ini akan terisi
oleh air membentuk danau kawah, sehingga pendaki dapat mandi serta mengambil
air bersih dari danau kawah.
Jalur Pendakian Sindoro Melalui Sigedang
Dari desa sigedang perjalanan
dilanjutkan ke arah perkebunan teh melewati jalan aspal sekitar 20 menit.
Kemudian berbelok ke kanan melewati jalanan berbatu menyusuri perkebunan teh.
Diperkebunan teh ini banyak sekali terdapat persimpangan. Bagi pendaki yang
belum pernah mendaki Gunung
Sindoro melewati
jalur ini ada baiknya mencari teman perjalanan yang paham jalur Sigedang.
Sepanjang perkebunan terdapat 2 POS dengan bangunan semi permanen yang bisa
dipakai untuk istirahat. 2 jam setelah melewati perkebunan teh kita akan sampai
pada batas perkebunan dengan hutan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke POS 3.
POS 3 berada ditengah tengah
perjalanan menuju puncak. Disini terdapat bangunan yang sudah roboh, namun
cukup untuk mendirikan 3 tenda dome. Jika fisik kurang mendukung sebaiknya
mendirikan camp di pos ini. Karena perjalanan selanjutnya selama 3-4 jam ke
puncak kita tidak akan menemukan selter untuk mendirikan tenda. Kurang lebih 2
jam dari sini kita akan sampai di Watu Susu. Watu Susu merupakan 2 buah batu
besar yang oleh warga setempat dianggap sebagai buah dada Gunung Sindoro. Menurut kepercayaan warga
setempat, Gunung
Sindoro adalah
gunung perempuan dan suaminya adalah Gunung Sumbing dengan anak Gunung Kembang.
Dari Watu Susu perjalanan kepuncak
masih sekitar 1 sampai 1,5 jam lagi. Melewati jalan bebatuan yang licin dan
kadang batu longsor saat kita injak. Pendaki harus hati hati terutama yang
berjalan didepan agar tidak membahayakan pendaki di belakangnya. Setelah itu
sampailah kita di kawasan puncak Gunung Sindoro.
Di kawasan puncak kita tidak akan
bingung untuk mendirikan tenda karena Gunung Sindoromemiliki dataran luas pada
puncaknya, sekitar 400×300 meter. Dibagian timur terdapat dua kawah seluas
200×150 meter, dan dibagian barat terdapat dataran Segoro Wedi dan Banjaran dan
dua dataran lain yang belum bernama yang merupakan sisa kawah utama. Pada saat
curah hujan tinggi kedua kawah ini terdapat banyak air yang bisa kita gunakan
untuk minum dan memasak. Genangan air tersebut bersih dan dapat digunakan
karena tidak terdapat belerang disini.
Ketika cuaca cerah, dari sini akan
terlihat jelas Gunung Sumbing, Merbabu, Slamet dan kawasan Dataran Tinggi
Dieng.


0 komentar:
Post a Comment